Golput Party


Partai Golput : Partai Harapan Masa Depan !!!.
August 6, 2008, 3:53 am
Filed under: Artikel Terkait, Menuju Indonesia Merdeka | Tags: , , , ,

Golput telah Menang dan Akan kembali Menang!!

Hancurkan kekusaaan dan kerakusan Partai Borjuasi dengan bergabung di Partai Golput, Partainya Rakyat Indonesia!!

Pemenang pilkada di sejumlah pilkada wilayah adalah ‘golongan putih’ atau ‘golput’. Demikian pula yang diharapkan akan terjadi pada Pemilu Legislatif dan Pilpres pada tahun 2009 mendatang.

Zaman sekarang ini, sudah tak ada lagi yang bisa diharapkan dari meraka para pemimpin itu, mereka yang sebenarnya tidak bisa berbuat untuk mensejahterakan rakyatnya, mereka yang hanya mengandalkan polesan “gincu”-nya, mereka yang mengandalkan ”posisi”-nya saja, mereka yang hanya mengandalkan kedudukannya sebagai ketua partai, mereka yang berbangga dengan predikatnya sebagai ekonom sukses, mereka yang menyandang keturunan sebagai darah biru bangsawan ningrat jawa.

Kepada mereka para pemimpin itu perlu kita pertanyakan, mereka itu pernah berbuat apa saja untuk mensejahteraan rakyat ini ?, mereka itu bisa melakukan apa untuk mensejahterakan rakyat ini ?, mereka telah punya prestasi apa dalam mensejahterakan rakyat ini ?.

Jangan-jangan mereka itu sesungguhnya tidak pernah berbuat apapun untuk mensejahterakan rakyat ini, selain hanya mensejahterakan diri mereka dan keluarga mereka. Jangan-jangan sesungguhnya mereka itu tak punya konsep apapun untuk mensejahterakan rakyat ini, selain bekal konsep untuk mensejahterakan diri mereka dan keluarga mereka.

Mayoritas dari kita ini dahulu begitu ‘muak’ dan ‘membenci’ kepemimpinan Presiden HM Soeharto, karena menurut kita hanya mensejahterakan dirinya dan keluarganya. Sehingga mayoritas dari kita ini kemudian bersepakat untuk ‘membakar’ negeri ini untuk menggulirkan reformasi.

Hari ini, kita telah diberikan oleh-Nya apa yang kita inginkan, bahkan kita telah berhasil menggapai idam-idaman kita untuk memilih langsung pemimpin kita. Tapi apa lacur ?, berulangkali kita tak pernah berhasil memilih pemimpin yang mampu mensejahterakan kita. Nyaris tak berbeda dengan apa yang kita keluhkan pada masa kepemimpinan Presiden HM Soeharto, mereka hanya mampu mensejahterakan diri mereka dan keluarga mereka saja. Hanya mereka yang di ‘Kursi Kekuasaan’ dan hanya mereka yang duduk di ‘Senayan’ saja yang diuntungkan dengan semuanya itu.

Karena sejatinya mayoritas dari kita ini lemah dalam menimbang dan memilih pemimpin yang baik dan yang akan mampu menyejahterakan rakyatnya.

Mayoritas dari kita ini seringkali, bahkan selalu hanya menyukai kemasan-artifisial ketimbang isi-substansi, sehingga selalu mengabaikan rekam jejak sejarah dari pemimpin itu, perjalanan kepemimpinannya yang panjang dan kompleks.

Bahkan juga, sebenarnya kita ini sudah tidak lagi mampu mengeluh atas keadaan dan situasi yang melingkupi tingkat kesejahteraan kita pada umumnya.

Kita dihadapkan pada keadaan yang hanya akan ‘menyakiti’ kesejahteraan kita saja.
Kita tak lagi punya kesanggupan dan kesempatan untuk memilih yang selainnya sosok-sosok yang pada masa lalu maupun masa sekarang ini pernah ‘menyakiti’ kita lewat kebijakan yang mereka putuskan.

Maka fenomena kemenangan Golput ini sangat besar artinya. Fenomena ini adalah cermin dari kurangnya kepercayaan rakyat terhadap para kontestannya. Dengan demikian maka sesungguhnya mereka para pemimpin yang terpilih pun hanya mempunyai legitimasi yang relatif rendah.

Berbekal kemenangan ‘Partai Golput’ yang akan mengurangi legitimasi mereka yang terpilih ini, diharapkan akan ‘mengerem’ tingkah laku para politikus anggota dewan serta Presiden dan Wakil Presiden agar tidak tidak semena-mena membuat ‘kebijakan yang menyengsarakan rakyat’ dengan mengklaim bahwa dirinya sebagai mewakili kehendak ‘mayoritas rakyat’.

Siapa pun yang terpilih sama saja, kondisi kesejahteraan rakyat tidak akan banyak berubah. Mau percaya atau tidak percaya, boleh saja, tapi percayalah !!!.

Wallahu’alambishawab.

***

Golput Pun Kembali Menang.

Semua kandidat dalam Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada Jawa Timur, Rabu (23/7), kalah telak !.

Kandidat itu paling tinggi meraih 25,51 persen suara (Karsa), lalu Kaji (25,36 persen), SR (22,19 persen), Salam (19,39 persen), dan Achsan hanya 7,55 persen.

Semua gara-gara Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan atas UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Kandidat yang sudah lelah dan capek mengeluarkan uang untuk kampanye mau tidak mau harus mengulang ke pilkada putaran kedua, sekitar tiga bulan lagi, karena tidak ada yang meraih suara di atas 30 persen.

Terutama, pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) dan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji), dua pasangan yang meraih suara terbanyak pada putaran pertama sesuai hasil prediksi Kompas dan sejumlah lembaga survei lain.

Pemenang pilkada kali ini, seperti sejumlah pilkada lainnya, justru golongan putih atau golput. Mereka adalah pemilih yang sengaja tidak menggunakan hak pilih mereka atau tidak mendatangi tempat pemungutan suara (TPS). Angkanya mencapai 39,2 persen.

Golongan tak berwarna ini paling besar justru ada di tlatah atau wilayah kebudayaan Pandalungan, yang mencapai 41,3 persen, di sekitar Kabupaten Jember, Probolinggo, Situbondo dan sekitarnya.

Gejala ini dapat diartikan sebagai fenomena kurangnya kepercayaan rakyat terhadap pilkada berikut kontestannya. Bila jumlah golput seperti itu terus meningkat, bukan tidak mungkin ke depan akan menjadi beban psikologis bagi kegiatan politik secara umum.

Pasalnya, angka absentee itu merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan demokrasi.

Jika merunut ”sejarah golput”, fenomena golput polos yang emoh ”memilih” warna kuning Golkar, merah (Partai Demokrasi Indonesia), dan hijau (Partai Persatuan Pembangunan) sebenarnya sudah ada sejak tahun 1971, yang dimotori Arief Budiman, Julius Usman, dan Imam Walujo Sumali. Menurut pandangan kaum muda saat itu, nilai dan prinsip demokrasi tidak ditegakkan dan dicerminkan dalam aturan main Pemilu 1971. Kekecewaan demikian diwujudkan dengan membuat gambar segi lima atau pentagon bergaris hitam, namun dasarnya warna putih sebagai identitas politiknya. Simbol inilah yang dikampanyekan intensif di kalangan tertentu warga perkotaan. Meski upaya memilih ”putih” itu hasilnya tidak signifikan pada Pemilu 1971, gejala ”peng-golput-an” tetap berlangsung pada pemilu selanjutnya.

Golput Pasif dan Aktif.

Memang, hingga kini, untuk memilah seseorang golput atau bukan tidaklah mudah. Dalam sebuah pemilu atau pilkada, golongan tak berwarna masih dalam satu bingkai dengan pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya, atau terkumpul menjadi satu dengan perolehan suara tidak sah. Jadi, golput masih memiliki wujud yang relatif bias secara nominal.

Meski memiliki keterbatasan, kedua data itu hingga kini masih dipakai sebagai acuan pendekatan golput secara aktif ataupun pasif.

Golput secara aktif umumnya diumbar secara terbuka dan ditunjukkan melalui kampanye atau orasi seperti yang terjadi menjelang Pemilu 1971 di Jakarta dan Pemilu 1992 di Yogyakarta.

Sebaliknya, golput pasif umumnya tidak ikut berkampanye, tinggal di rumah saat pencoblosan, atau mencoblos kartu suara sedemikian rupa sehingga surat suara itu tidak sah.

Saat ini golput pasif yang kian marak dipakai sebagai alternatif pilihan masyarakat. Salah satunya terlihat dalam Pilkada Jawa Tengah pada medio Juni lalu. Dari 25,85 juta pemilih terdaftar, hanya 58,46 persen yang hadir mencoblos. Itu pun sekitar 1,1 juta suara tidak sah. Alhasil, kemenangan pasangan Bibit Waluyo-Rustriningsih yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, sebesar 43,44 persen, berasal dari perolehan suara sebanyak 6,08 juta atau sebesar 23,53 persen dari pemilih yang ada dalam daftar pemilih tetap.

Kenyataan itu menunjukkan legitimasi kepala daerah yang terpilih pun relatif rendah karena banyak pemilih yang tidak menggunakan hak mereka.

Banyak faktor yang dapat menjawab alasan tingginya absensi dalam pilkada itu. Misalnya, isu yang diangkat kontestan umumnya bersifat nasional sehingga kurang menyentuh permasalahan lokal.

Lainnya adalah terbatasnya akses informasi mengenai latar belakang calon kepala daerah beserta programnya.

Demikian pula soal citra buruk para politisi, membuat sebagian masyarakat kian yakin untuk absen dalam pencoblosan.

Bahkan, kesulitan ekonomi yang membayangi masyarakat pascakenaikan harga bahan bakar minyak pada Mei lalu pun bisa membuat masyarakat kian enggan mendatangi TPS.

Sikap rasionalitas demikian umumnya terjadi di daerah perkotaan yang notabene dekat dengan kelas menengah terdidik, berkesadaran politik, dan kritis terhadap pilkada (Joko J Prihatmoko, 2008).

Golput Putaran Kedua.

Sikap golput sebagian masyarakat Jatim ini membuat kontestan yang terpilih untuk mengikuti pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jatim putaran kedua nanti akan tergerus legitimasinya. Apalagi, tren pengalaman ber-golput pada pemilu atau pilkada di Jatim kian meningkat.

Pada pemilihan presiden-wakil presiden tahun 2004 putaran pertama, angka ketidakhadiran pemilih dan suara rusak mencapai 24,60 persen dari daftar pemilih tetap. Besaran itu bertambah menjadi 26,31 persen pada pilpres putaran kedua.

Juga angka golput semakin besar lagi pada pilkada rentang 2005-2008. Paling tidak, angka itu melonjak menjadi rata-rata sekitar 34,06 persen di setiap kabupaten dan kota.

Dari ketiga pemilihan itu, Kota Surabaya merupakan daerah yang paling tinggi memiliki tingkat kerawanan golput. Terlihat dari angka absensi dan suara tak sahnya secara konstan di atas 32 persen. Bahkan, pada pilkada terakhir Juni 2005 besarannya mencapai 50,35 persen.

Memang, pada rentang pilkada 2005-2008 yang berlangsung di sekitar 29 kabupaten/kota itu banyak terjadi penggelembungan absentee dan suara rusak. Jika pada pilpres pertama dan kedua hanya ada lima daerah yang memiliki besaran angka ”golput” di atas 30 persen, pada ajang pilkada jumlahnya melonjak menjadi sekitar 20 kabupaten/kota.

Bahkan, ada lima daerah selain Kota Surabaya yang melonjak hingga di atas 40 persen, yakni Kabupaten Blitar sebesar 44,37 persen, Sidoarjo 40,39 persen, Nganjuk 41,50 persen, Kota Malang 40,38 persen, dan Kota Batu 40,25 persen.

Ini tanda pilkada kurang menarik bagi pemilihnya. Menurut beberapa pakar, tingginya angka absensi mengindikasikan kelemahan kandidat dalam memformulasikan isu lokal.

Pasalnya, isu yang diangkat terkadang abstrak dan sulit dijabarkan, bahkan bikin bingung karena ada kemiripan isu sehingga sulit untuk menjatuhkan pilihan.

Selain itu, ada indikasi rendahnya komitmen sesuai janji kandidat untuk memecahkan permasalahan lokal.

”Siapa pun yang terpilih sama saja. Kondisi Jatim tidak akan banyak perubahan”, tutur ”calon” golput, dua hari menjelang pencoblosan.

Percaya tidak percaya, percayalah !.

Perilaku Pemilih, Golput Pun Kembali Memenangi Pilkada. Budiawan Sidik Arifianto. Kamis, 24 Juli 2008. http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/24/01122083/golput.pun.kembali.memenangi.pilkada.

***

Pemimpin Pilihan Iklan.

Menjelang Pemilu 2009, frekuensi iklan politik melonjak. Iklan-iklan itu tidak hanya memperkenalkan partai-partai politik, tetapi juga sosok-sosok individu politik.

Tidak ada salahnya kandidat politik memasang iklan. Tujuannya agar publik mengenal dan populer. Derajat popularitas seseorang ditentukan dengan jawaban ”ya saya tahu” saat ada pertanyaan dari lembaga survei.

Namun, popularitas tidak sama dengan elektabilitas. Jadi, memasang iklan saja belum cukup. Inilah tinjauan dari sisi lembaga atau sosok individu.

Perlu Legitimasi.

Bagaimana dari sisi publik ?. Respons beragam. Di tengah situasi ekonomi yang belum membaik, publik bertanya berapa besar dan dari mana biaya iklannya. Pertanyaan itu yang sering muncul pertama kali, bukan substansi atau materi iklan.

Demokrasi langsung memang mahal. Namun, biasanya psikologi publik amat dipengaruhi kondisi sosio-ekonominya. Sayang, jika uang dihambur-hamburkan untuk ongkos politik.

Publik seolah dalam lautan janji saat menatap iklan-iklan politik. Janji-janji itu kerap amat hiperbolik, kurang realistis. Kalau bukan janji, pengiklan politik memosisikan diri sebagai ”dewa penyelamat”, mesias, yang bisa mengatasi semua persoalan. Karena itu, mereka memerlukan dukungan dan legitimasi.

Partai dan sosok individu dalam politik perlu pencitraan. Karena itu, mereka sibuk ”berdandan” agar publik terpikat. Dalam ilmu komunikasi politik modern, penggunaan iklan hanya sebagian dari teknik komunikasi yang komprehensif. Dari sisi publik yang ”sadar”, iklan politik sebenarnya sekadar ”artifisial” atau permukaan.

Ibaratnya, iklan baru sebatas label alias pengenalan merek. Karena ”artifisial”, maka yang ditawarkan belum tentu otentik. Iklan belum tentu menghasilkan pemimpin sejati.

Kepemimpinan Otentik.

Jika pemasang iklan dikatakan bukan calon pemimpin otentik, tidak 100 persen benar. Otentik atau tidak otentik pemimpin tidak terkait apakah ia memasang iklan atau tidak.

Iklan hanya cara, sedangkan otentisitas kepemimpinan adalah proses. Pemimpin yang otentik terlihat dari proses panjang (track record) yang dialami sang calon.

Publik yang ”sadar” akan melihat pemimpin otentik secara keseluruhan, menghitung plus-minusnya.

Menurut pakar manajemen Donald H McGannon, leadership is action, not position. Pemimpin yang tidak bisa berbuat dan hanya mengandalkan ”posisi”-nya sebagai—misalnya—ketua partai, ekonom- sukses, ilmuwan berpengaruh, atau elite aktivis yang banyak akses tak bisa diharapkan.

Kepada mereka perlu ditanyakan, pernah berbuat apa dan bisa melakukan apa ?. Pengalaman dan prestasi kerja sebelumnya amat penting diketahui, baik pemimpin tua maupun muda.

Secara ekstrem, pemimpin otentik tidak dibuat-buat. Ia mampu merespons banyak masalah secara tepat melalui aneka improvisasi yang indah dan jitu.

Para pelawak yang lebih mengandalkan improvisasi mungkin lebih otentik dibandingkan yang mengandalkan teks. Kualitas kelucuan pelawak ditentukan oleh kepandaian improvisasi yang cerdas ketimbang pembaca dan penghafal teks.

Dengan demikian, kepemimpinan otentik bersifat komprehensif dan holistik. Pemimpin otentik adalah manusia pembelajar.

Publik tidak boleh terjebak pada ”gincu” iklan-iklan politik, tetapi mau bersusah menyelami apa dan siapa yang diiklankan itu, berikut ”kegunaannya”.

Level-Level Publik.

Masalahnya, kita lemah dalam menimbang dan memilih pemimpin yang otentik. Namun, mereka tak dapat disalahkan saat pilihannya terbatas.

Ada yang terpaksa memilih pemimpin yang dianggap ”paling baik di antara yang baik” atau ”yang dianggap baik, di antara yang tidak baik”. Namun, pemimpin yang ”baik” belum tentu otentik.

Katakan, mereka yang mampu memilih pemimpin sejati adalah kualifikasi publik level satu.

Level kedua, diisi publik primordial, kerap mengabaikan otentisitas. Kualifikasi kepemimpinan yang panjang dan kompleks dilewatkan begitu saja. Primordialitas ini kerap amat fatal, mengerucut pada pola ”pejah-gesang”.

Level ketiga, diisi publik yang suka kemasan-artifisial ketimbang isi-substansi. Di sinilah partai dan sosok individu politik berpeluang meraup pendukung.

Level keempat, diisi publik yang tak berdaya dan terjebak pola masokis. Sebenarnya, publik jenis ini cukup kritis, mampu mengeluh atas keadaan dan kepemimpinan, tetapi tidak sanggup untuk tidak memilih selain partai atau sosok yang pernah ”menyakitinya” itu.

Level kelima, publik yang apatis, yang sudah tidak percaya lagi pada institusi atau sosok politik siapa pun dapat memperbaiki keadaan. Mereka tidak sekadar golput (non-votters) teknis.

Idealnya, pendidikan politik terus dilancarkan agar publik juga berkualitas dalam iklim politik demokrasi langsung. Media massa juga bertanggung jawab dan berperan dalam proses pendidikan publik.

Iklan-iklan politik boleh ditayangkan, tetapi ulasan media harus mencerdaskan. Pemasang iklan harus memenuhi kaidah etika politik agar semarak tetapi etis.

Pemimpin Pilihan Iklan. M Alfan Alfian. Kamis, 24 Juli 2008. http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/24/01130236/pemimpin.pilihan.iklan

***

DPR, Mereka Bukan Wakil Rakyat tetapi Wakil Penjahat.

Ditahannya Yusuf Emir Faisal (mantan Ketua Komisi IV DPR dari Fraksi PKB) menambah jumlah politisi yang terbukti melakukan penyalahgunaan jabatan untuk mendapat uang secara ilegal dalam alih fungsi hutan Bagan Siapi-api (Sumut). Sebelumnya, yang sudah masuk ruang pesakitan adalah Al Amin Nasution (PPP) kasus alih fungsi hutan Pulau Bintan (Kepri); Bulyan Royan (PBR) kasus pengadaan kapal patroli Dephub; sejumlah mantan anggota DPR dan mantan anggota DPR yang kini menjadi pejabat negara yang terindikasi penerima aliran dana Bank Indonesia (BI).

Kenyataan itu menunjukkan adanya kebusukan yang mengisi ruang-ruang di lembaga wakil rakyat. Sinyalemen bau busuk itu, yang diperkuat hasil survei lembaga Transparency Internasional Indonesia (TII) yang menempatkan DPR sebagai salah satu lembaga terkorup di Indonesia.

Bukti itu tak terbantahkan. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dengan menggunakan metode dan teknologi canggih, berhasil mengungkap bagian demi bagian dari gunung es itu.

Membersihkan DPR.

Upaya membersihkan DPR merupakan bagian dari tugas mulia dan wajib hukumnya. Mengapa ?.

Pertama, lembaga itu merupakan salah satu simbol dari wajah bangsa ini, wajah rakyat Indonesia. Padahal, masyarakat bangsa ini, dari suku dan agama apa pun, tidak ada yang menghalalkan korupsi. Jika para politikus itu melakukan tindakan korupsi, sebenarnya mereka keluar dari habitat budaya dan kearifan asli rakyat yang diwakilinya. Tepatnya, mereka bukan wakil rakyat bangsa, tetapi wakil penjahat.

Kedua, anggota DPR sudah mendapat cukup banyak uang, jauh di atas rata-rata pendapatan rakyat yang diwakili. Berbagai pendapatan diterima setiap bulan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, yakni gaji pokok, tunjangan kehormatan, uang representasi, tunjangan komunikasi, uang rapat, hingga biaya reses atau kunjungan kerja. Hanya mereka yang kehilangan nurani dan moralitas yang mau mencari tambahan dengan merampok uang negara atau pihak terkait.

Ketiga, DPR merupakan penentu utama kebijakan negeri ini. Anggota DPR memiliki posisi dan kewenangan yang kuat, baik dalam pembuatan UU, penentuan anggaran negara (budgeting), pengawasan (oversight), hingga pengangkatan pimpinan lembaga-lembaga negara. Maka, orang yang ada di dalamnya seharusnya menjalankan tugas mulia, tidak berperilaku busuk. Bila mereka jahat, produk-produknya pun tak bisa dibenarkan.

Kendati demikian, upaya memberantas korupsi atau penyalahgunaan jabatan di DPR bukan hal mudah. Setidaknya ada dua faktor penghambat.

Pertama, diakui atau tidak, praktik seperti itu cenderung menjadi budaya dan sistem. Pihak eksekutif sebagai mitra kerja, dalam membahas RUU apalagi yang terkait persetujuan anggaran, ”sudah mengerti” atau ”tahu sama tahu” perlunya uang pelicin untuk diberikan di bawah tangan kepada para operator anggota DPR atau melalui penghubung. Jika tidak melibatkan diri dalam kebiasaan itu, jangan harap permintaannya akan disahuti alias diendapkan tanpa waktu pasti meski agenda yang diusulkan itu amat penting bagi keperluan masyarakat.

Maka, daripada tak dikabulkan, lebih baik mengikuti kehendak pragmatis-materi para politikus. Padahal, semua agenda DPR juga sudah ada anggaran resminya. Artinya, meski bisa dikatakan terjebak sistem, dapat dikatakan para mitra kerja DPR (termasuk pihak daerah) juga turut berkontribusi dalam menciptakan dan memelihara kerusakan di lembaga wakil rakyat dari unsur parpol itu.

Kedua, para anggota DPR ada dalam tekanan parpol asal. Bahkan, kalau mau jujur, sebagian anggota DPR ”khusus ditugaskan” untuk mendapat dana parpol dengan berbagai cara, mulai dari strategi kasar dengan ”vokal di dalam rapat dan media, lalu diatur secara damai di tempat tertentu”, hingga cara-cara halus.

Maka, posisi strategis seperti pimpinan fraksi dan komisi biasanya diperebutkan dan merupakan porsi dari figur yang lihai mencari uang. Jika tidak memenuhi target setoran, jangan harap yang bersangkutan bisa bertahan pada posisi strategisnya karena sederet anggota lainnya siap menggantikan. Hanya dengan cara itu, parpol bisa eksis, termasuk membantu ”memakmurkan” pejabat penting di parpolnya.

Tidak Jera.

Tampaknya, kondisi seperti itu yang kemudian menjadikan sejumlah anggota DPR kini di kursi pesakitan. Namun, sebagian tampaknya belum jera, bahkan diduga kuat masih menjalankan kebiasaan buruk dan jahat, memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh keuntungan materi secara pribadi, dan memperkaya diri selama menjadi anggota DPR.

Jika masih ingin dicalonkan lagi oleh parpolnya, faktor uang amat menentukan, selain untuk ke parpol, juga membiayai dukungan konstituen dan berbagai atribut yang diperlukan untuk sosialisasi dalam proses-proses kampanye seperti sekarang. Semua keperluan itu tak mungkin dipenuhi hanya oleh pendapatan resmi, apalagi gaji mereka tiap bulan dipotong oleh parpol asal.

Apa yang harus dilakukan ?. Diperlukan ketegasan presiden terhadap seluruh jajaran eksekutif dan masyarakat. Setiap membahas kebijakan, termasuk dengar pendapat dengan pemerintah, misalnya presiden harus memberi garis tegas agar para pembantunya tidak menoleransi keluarnya sepeser uang untuk anggota DPR.

Semua pihak yang berhubungan dengan DPR harus tegas bersikap, menyatakan ”tidak” dengan tawaran uang atau gertakan politisi busuk.

Sepanjang yang diperjuangkan adalah kepentingan rakyat, tak ada alasan untuk tawar-menawar dengan politisi busuk. Artinya, semua pihak harus berani mengingatkan agar wakil rakyat bekerja profesional sesuai aturan.

Rusaknya DPR. Laode Ida. Kamis, 24 Juli 2008. http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/24/01124178/rusaknya.dpr



Partai Golput
August 5, 2008, 6:34 pm
Filed under: Opini | Tags: ,

Kampanye tertutup yang dilakukan partai peserta Pemilu 2009 sudah dimulai sejak beberapa hari lalu. Dan hampir setiap partai kontestan sudah melakukan berbagai aksi untuk menjual partainya kepada masyarakat. Mulai dari memasang bendera dan berbagai atribut partai lainnya, pasang “iklan” di media massa, temu kader, dan sebagainya. Bisa dipastikan, sampai dengan menjelang berakhirnya kegiatan kampanye, kegiatan-kegiatan semacam itu akan terus semakin marak dan seru. Bersamaan itu pula, masing-masing kontestan Pemilu akan mengobral janji-janjiya, baik yang dilakukan oleh para calon yang akan duduk di kursi legislatif maupun eksekutif.

Tulisan : Akhmad Sudrajat

Pada Pemilu 2009 yang akan datang, secara resmi KPU telah mengumumkan 34 Parpol yang berhak menjadi peserta pemilu dan akan memperebutkan jutaan suara rakyat. Tetapi dari jutaan rakyat pemilih tersebut tampaknya akan ada pula rakyat yang akan menentukan pilihan lain di luar partai resmi yaitu dengan memilih “Partai Golput”. “Partai Golput” memang telah menjadi fenomena tersendiri di negeri ini. Pengalaman dari Pemilihan Kepala Daerah di beberapa propinsi, suara pemilih “Partai Golput “ jumlahnya ternyata cukup signifikan, bahkan mampu mengalahkan suara yang diperoleh para kandidat yang diusung oleh partai resmi.

Pada Pemilu 2009 yang akan datang pun, pemilih “Partai Golput“ diperkirakan akan tetap ada, bahkan tidak menutup kemungkinan jumlah suaranya akan semakin membengkak. “Partai Golput” ini memang tidak melakukan konsolidasi kader, karena memang mereka tidak memiliki kepengurusan dan sistem pengorganisasian yang jelas. Mereka tidak berkampanye dan tidak menjanjikan apa pun kepada rakyat, karena memang tidak menyiapkan program yang bisa ditawarkan kepada rakyat. Begitu juga, partai ini tidak memiliki calon resmi yang akan duduk di legislatif maupun di eksekutif, Meski tidak memiliki persyaratan layaknya sebuah partai, tetapi “Partai Golput“ ini memiliki konstituen yang kaya dengan suara batin tentang pentingnnya kebenaran, kesejahteraan dan keadilan, dan kecintaan terhadap negeri ini. Mungkin jauh lebih baik, jika dibandingkan dengan suara batinnya para anggota DPR yang saat ini sedang diperiksa oleh KPK.

Saya pernah menyaksikan acara debat antara kelompok yang setuju dengan tidak setuju terhadap “Partai Golput”, yang ditayangkan oleh salah satu TV swasta. Dari kelompok pendukung Golput menghadirkan Prof. Dr. Sulistyo dan Dr. Arbi Sanit sebagai pembicara utamanya. Dari hasil pembicaraan dan argumentasi yang disampaikan oleh kedua pembicara tersebut tampaknya dapat disimpulkan bahwa menurut mereka sistem pemilu yang sekarang ini masih memungkinkan terjadinya partai-partai kontestan Pemilu untuk mengangkut para “politisi busuk“ ke dalam lembaga legislatif atau eksekutif, yang ujung-ujungnya justru akan semakin menjerembabkan negeri ini ke jurang kahancuran. Oleh karena itu, mereka telah menentukan pilihannya dengan memilih “Partai Golput”.

Kalau memang demikian adanya, maka untuk mengurangi tingkat pemilih “Partai Golput” pada Pemilu 2009, partai-partai yang sudah resmi sebagai kontestan Pemilu seyogyanya dapat berintrospeksi dan mengevaluasi lebih dalam lagi terhadap sistem pengorganisasiannya, terutama dalam proses rekruitmen para calon yang akan duduk di kursi legislatif maupun eksekutif. Setiap partai harus bisa memastikan bahwa para calon-calon yang akan dijagokannya adalah benar-benar calon-calon pemimpin yang telah memenuhi syarat-syarat kepemimpinan. Bukan hanya sekedar ganteng, cantik, kaya, populer, apalagi hanya mengandalkan “kepalan-tangannya yang besar”, tetapi dalam diri mereka harus tersedia kecerdasan yang lengkap, cerdas intelektual, cerdas emosional, cerdas sosial dan cerdas spritual.

Melalui calon-calon yang kredibel dan kapabel inilah mungkin kegairahan rakyat untuk mendatangi tempat-tempat pemungutan suara akan semakin meningkat. Bagaimanapun harus diakui bahwa saat ini rakyat sudah jauh lebih cerdas dan rasional sehingga mereka bisa menentukan pilihan terbaiknya, sesuai dengan hati nurani mereka.



Rakyat No, Kekuasaan Yes! Partai Borjuasi Memang Bajingan!!
July 16, 2008, 5:08 am
Filed under: Gambar | Tags: , , , , ,



Daftar Partai-Partai Borjuasi
July 14, 2008, 2:56 am
Filed under: Peringatan Dini | Tags: , ,

PERINGATAN !! MEMILIH PARTAI-PARTAI DIBAWAH  INI BERARTI MEMBIARKAN MAKIN BANYAK LAGI ASET BANGSA YANG AKAN TERJUAL. DAN MEMBIARKAN RAKYAT AKAN MAKIN SENGSARA !!! WASPADALAH……..WASPADALAH!!!! WASPADALAH TERHADAP PENGHIANAT DIBALIK JUBAH NASIONALISME DAN AGAMA DALAM SATU PAKET DEMOKRASI YANG PALSU!!!

INILAH DAFTAR PARTAI POLITIK BORJUASI TERBARU!!!

NO : NAMA PARTAI POLITIK : KETUA

1.PARTAI HATI NURANI RAKYAT (HANURA) Jend. TNI (Purn) H. Wiranto, S.H.
2.PARTAI BURUH Dr. Muchtar Pakpahan, SH. M.A.
3.PNI MASSA MARHAEN Tjahyo Samawi
4.PARTAI GARUDA Drs. H. Abdul Malik Mohamad Razif
5.PARTAI DEMOKRASI INDONESIA (PDI) Hj. Mentik Budiwiyono
6.PARTAI PARADE NUSANTARA H. Sudir Santoso, S.H.
7.PNI BERSATU (sebelumnya: PNI Marhaen) Andi Baso Amir, M.B.A.
8.PARTAI REPUBLIKKU Laksdya TNI Purn Wahyu Sasongko S.Sos,M.M.
9.PARTAI DEMOKRASI PEMBARUAN (PDP)H. Roy B.B. Janis, S.H., M.H.
10.PARTAI DEMOKRASI INDONESIA (PDI) 1973 H. Anjar Asmara
11.PARTAI PEDULI RAKYAT NASIONAL(PPRN) Amelia Yani
12.PARTAI KEADILAN PERSATUAN (PKP) Meutia Hatta
13.PARTAI MATAHARI BANGSA Imam Addaruqutni
14.PARTAI KEBANGKITAN NASIONAL ULAMA Drs. H. Choirul Anam
15.PARTAI KARYA PEMBANGUNAN BANGSA Jend. TNI (Purn.) H.R. Hartono
16.PARTAI KONGRES Zakariani Santoso
17.PARTAI PNI PANCASILA Sukmawati Sukarno
18.PARTAI PENGUSAHA DAN PEKERJA INDONESIA – Dr. Daniel Hutapea
19.PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA (GERINDRA) Prof. Dr. Ir. Suhardi, M.Sc.
20.PARTAI DEMOKRASI KEBANGSAAN (dulu Partai Persatuan Demokrasi
21.PARTAI BARISAN KEBANGSAAN INDONESIA (BARISKI)- K: Dr. Johny M. Hidayat, M.Sc., Ph.D.
22.PARTAI KARYA PERJUANGAN (PAKAR PANGAN) Jackson A.W. Kumaat
23.PARTAI PEDULI DAERAH (PPD) H. Mohamad Rafi”ie Husein
24.PARTAI PEMBARUAN BANGSA (PPB) Engelina H. Pattiasina
25.PARTAI BELA NEGARA Eddy Hartawan Siswono
26.PARTAI BINTANG BULAN Hamdan Zoelva, S.H., M.H.
27.PARTAI PATRIOT Yapto Soelistio Soerjosoemarno, S.H.
28.PARTAI KEBANGSAAN Dr. K.R.H. Suprayitno K., M.B.A.
29.PARTAI BINTANG REFORMASI
30.PARTAI SOLIDARITAS NASIONAL Harsono Badai Samodra
31.PARTAI PELOPOR INDONESIA
32.PARTAI KEDAULATAN H. Ibrahim Basrah, S.H.
33.PSRTAI INDONESIA SEJAHTERA (PIS) -H. Budiyanto Darmastono, S.E.
34.PARTAI SOLIDARITAS BURUH Samuel E.J. Mintje, M.Min.
35.PARTAI PERSATUAN NASIONAL Pius Lustrilanang, S.IP., M.Sc.
36.PARTAI KRISTEN DEMOKRAT Dr. Tommy Sihotang
37.PARTAI BARISAN NASIONAL (BARNAS) – Ir. Silo Marbun
38.PARTAI PERSATUAN SAREKAT INDONESIA (PSI)
39.PARTAI KEMAKMURAN Abdul Basit H. Yusuf, S.H.
40.PARTAI NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) R.M.H. Heroe Syswanto Ns.
41.PARTAI NASIONAL BENTENG KERAKYATAN (PNBK)- Eros Djarot
42.PARTAI ISLAM INDONESIA – MASYUMI Umar Tuasikal, S.H.
43.PARTAI PERSERIKATAN RAKYAT Syaiful Bahari
44.PARTAI REPUBLIKA NUSANTARA (REPUBLIKAN)- Letjen.(Purn). Drs. H. Syahrir, M.S.S.E.
45.PARTAI KERAKYATAN NASIONAL Ir. Soebiantoro, S.E.
46.PARTAI NURANI UMAT K.H. Mucharor, A.M
47.PARTAI BERINGIN MUDA Drs. H. Almukmin Ibnu Ali, S.H.,M.H. Pusat Informasi dan Komunikasi

PARTAI BORJUASI TERDAHULU :

Partai Peserta Pemilu 2004

1. Partai Nasional Indonesia Marhaenisme
Didirikan: Jakarta, 20 Mei 2002
Asas: Marhaenisme Ajaran Bung Karno
Ketua Umum: DM Sukmawati Soekarnoputri
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 24 provinsi

2. Partai Buruh Sosial Demokrat
Didirikan: Jakarta, 1 Mei 2001
Asas: Pancasila dan UUD 1945
Ketua Umum: Muchtar Pakpahan
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 22 provinsi

3. Partai Bulan Bintang
Didirikan: Jakarta, 17 Juli 1998
Asas: Islam
Ketua Umum: Hamdan Zoelvan
Keterangan: Electoral Threshold

4. Partai Merdeka
Didirikan: Jakarta, 10 Oktober 2002
Asas: Pancasila
Ketua Umum: Adi Sasono
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 22 provinsi

5. Partai Persatuan Pembangunan
Didirikan: Jakarta, 5 Januari 1973
Asas: Islam
Ketua Umum: Hamzah Haz
Keterangan: Electoral Threshold

6. Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan
Didirikan: Jakarta, 23 Juli 2002
Asas: Pancasila
Ketua Umum: M Ryaas Rasyid
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 23 provinsi

7. Partai Perhimpunan Indonesia Baru
Didirikan: Jakarta, 23 September 2002
Asas: Keadilan, Demokrasi, dan Kemakmuran
Ketua Umum: Sjahrir
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 22 provinsi

8. Partai Nasional Banteng Kemerdekaan
Didirikan: Jakarta, 27 Juli 2002
Asas: Marhaenisme Ajaran Bung Karno
Ketua Umum: Eros Djarot
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 21 provinsi

9. Partai Demokrat
Didirikan: Jakarta, 9 September 2001
Asas: Pancasila
Ketua Umum: S Budhisantoso
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 25 provinsi

10. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia
Didirikan: Jakarta, 9 September 2002
Asas: Pancasila
Ketua Umum: Jend TNI (Purn) Edi Sudrajat
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 23 provinsi

11. Partai Penegak Demokrasi Indonesia
Didirikan: Jakarta, 10 Januari 2003
Asas: Pancasila
Ketua Umum: H Dimmy Haryanto
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 21 provinsi

12. Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia
Didirikan: Jakarta, 5 Maret 2003
Asas: Islam
Ketua Umum: KH Syukron Ma’mun
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 22 provinsi

13. Partai Amanat Nasional
Didirikan: Jakarta, 23 Agustus 1998
Asas: Pancasila
Ketua Umum: Soetrisno Bachir
Keterangan: Electoral Threshold

14. Partai Karya Peduli Bangsa
Didirikan: Jakarta, 9 September 2002
Asas: Pancasila
Ketua Umum: Jend TNI (Purn) HR Hartono
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 23 provinsi

15. Partai Kebangkitan Bangsa
Didirikan: Jakarta, 23 Juli 1998
Asas: Pancasila
Ketua Umum: Alwi Abdurrahman Shihab
Keterangan: Electoral Threshold

16. Partai Keadilan Sejahtera
Didirikan: Jakarta, 20 April 2002
Asas: Islam
Ketua Umum: Tifatul Sembiring
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 23 provinsi

17. Partai Bintang Reformasi
Didirikan: Jakarta, 20 Januari 2002
Asas: Islam
Ketua Umum: KH Zainuddin MZ
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 23 provinsi

18. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Didirikan: Jakarta, 10 Januari 1973
Asas: Pancasila
Ketua Umum: Megawati Soekarnoputri
Keterangan: Electoral Threshold

19. Partai Damai Sejahtera
Didirikan: Jakarta, 1 Oktober 2001
Asas: Pancasila
Ketua Umum: Ruyandi Hutasoit
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 21 provinsi

20. Partai Golongan Karya
Didirikan: Jakarta, 20 Oktober 1964
Asas: Pancasila
Ketua Umum: Jusuf Kalla
Keterangan: Electoral Threshold

21. Partai Patriot Pancasila
Didirikan: Jakarta, 1 Juni 2001
Asas: Pancasila
Ketua Umum: KRMH Japto S Soerjosoemarno
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 21 provinsi

22. Partai Sarikat Indonesia
Didirikan: Surabaya, 17 Desember 2002
Asas: Pancasila
Ketua Umum: H Rahardjo Tjakraningrat
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 22 provinsi

23. Partai Persatuan Daerah
Didirikan: Jakarta, 18 November 2002
Asas: Pancasila
Ketua Umum: Oesman Sapta
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 21 provinsi

24. Partai Pelopor
Didirikan: Jakarta, 29 November 2002
Asas: Pancasila
Ketua Umum: Rachmawati Soekarnoputri
Keterangan: Lolos verifikasi faktual di 21 provinsi



Pernyataan Sikap
July 13, 2008, 8:57 pm
Filed under: Statement | Tags: , , ,

Kami golongan putih (Golput) adalah golongan mayoritas rakyat Indonesia. Berangkat dari proses kesadaran akan suatu kenyaaan dalam kehidupan ekonomi dan politik dari masa orde baru dan masuknya era reformasi telah membuat rakyat tertipu. Selama ini janji-janji mengenai kehidupan ekonomi dan politik yang katanya berpihak kepada rakyat adalah janji-janji omong kosong saja. Pada kenyataanya segala janji-janji itu hanya berpihak kepada golongan borjuasi nasional (golongan kaya) yaitu golongan minoritas rakyat yang bermodal yang pada prakteknya telah merugikan golongan rakyat mayoritas yaitu kaum buruh, kaum petani, kaum nelayan, pedagang2x tradisional dan kaum miskin Indonesia. Pendidikan yang mahal, biaya kesehatan yang mahal, penggusuran-pengusuran, ketidak adilan hukum dan segala bentuk UU yang diskriminatif adalah contoh ketidak berpihakan itu. Selain itu mereka dengan nyata telah berhianat dengan menjual kekayaan alam Indonesia yang seharusnya adalah milik pusaka rakyat Indonesia kepada kaum Kapitalisme International demi mendapatkan keuntungan bagi mereka sendiri. Swastanisasi aset rakyat seperti tambang-tambang minyak,listrik, hutan bahkan telekomunikasi merupakan sebagian contoh bentuk penghianantan tersebut.

Mereka (kaum borjuasi) saat ini telah berkamuflase di dalam partai-partai politik, baik itu berlandaskan nasionalisme dan agama. Mengatasnakan demokrasi mereka telah membeli hak-hak rakyat agar dapat duduk di parlemen dan pemerintah padahal sesungguhnya mereka hanya ingin mendapatkan legalitas untuk terus memeras golongan mayoritas rakyat Indonesia. Bahkan demi persaingan dengan sesama mereka sendiri mereka tidak segan menggunakan agama sebagai alat. Kasus Ambon, Poso dan lainnya merupakan suatu contoh dimana mereka menyembunyikan masalah persaingan antar mereka dengan menggunakan kedok agama yang pada akhirnya rakyat golongan mayoritas yang menjadi korban.

Kami golongan putih (Golput) adalah golongan mayoritas rakyat Indonesia. Dengan ini kami tetap bersikap untuk tetap tidak berpihak kepada kekuatan politik apapun. Karena kami melihat bahwa semua kekuatan partai-partai politik adalah partai-partai borjuasi berwatak kapitalistik. Kami melihat semuanya ini hanyalah dagelan politik semata. Permainan politik kaum borjuasi telah nyata gagal dalam mewujudkan keadilan bagi rakyat. Permainan politik kaum borjuasi telah nyata hanya membuat rakyat Indonesia jatuh dalam keterpurukan yang panjang. Bukannkan krisis moneter adalah krisis yang merupakan krisis kapitalisme International di mana kaum borjuasi Indonesia menghambil bagian didalamnya?

Kami golongan putih (Golput) adalah golongan mayoritas rakyat Indonesia. Kami bukanlah anti akan pemilu dan anti akan keterwakilan rakyat dalam dewan-dewan rakyat. Tetapi bagi kami selama pemilu masih dibawah sistem yang di kuasai kaum borjuasi selama itu pula tidak akan ada kesejahteraan.

Demokrasi kami bukanlah demokrasi kaum borjuasi. Demokrasi kami adalah demokrasi dari rakyat dan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia sepenuhnya. Demokrasi di bawah kontrol klas Buruh. Mereka yang berhak duduk di dewan-dewan rakyat adalah mereka yang mewakili kaum buruh, mewakili kaum petani, mewakili kaum miskin kota, mewakili kaum nelayan dan mewakili pedagang-pedagang tradisional Indonesia. Dan bila saat itu tiba kami akan meleburkan diri dalam sistem demokrasi itu.

Demikian pernyataan kami.

Bandung, 7 Juli 2008

Ingat pemilu adalah hak rakyat!!

Stop dibodoh-bodohi!!

Bersatu dan Bergabunglah di Partai Golput!!

Partainya rakyat merdeka!!!

Rakyat yang 100% merdeka!!

100% lepas dari Feodalisme!!

100% lepas dari kapitalisme!!

Menuju kemajuan dan kesejahteraan Rakyat Indonesia!!