Kami golongan putih (Golput) adalah golongan mayoritas rakyat Indonesia. Berangkat dari proses kesadaran akan suatu kenyaaan dalam kehidupan ekonomi dan politik dari masa orde baru dan masuknya era reformasi telah membuat rakyat tertipu. Selama ini janji-janji mengenai kehidupan ekonomi dan politik yang katanya berpihak kepada rakyat adalah janji-janji omong kosong saja. Pada kenyataanya segala janji-janji itu hanya berpihak kepada golongan borjuasi nasional (golongan kaya) yaitu golongan minoritas rakyat yang bermodal yang pada prakteknya telah merugikan golongan rakyat mayoritas yaitu kaum buruh, kaum petani, kaum nelayan, pedagang2x tradisional dan kaum miskin Indonesia. Pendidikan yang mahal, biaya kesehatan yang mahal, penggusuran-pengusuran, ketidak adilan hukum dan segala bentuk UU yang diskriminatif adalah contoh ketidak berpihakan itu. Selain itu mereka dengan nyata telah berhianat dengan menjual kekayaan alam Indonesia yang seharusnya adalah milik pusaka rakyat Indonesia kepada kaum Kapitalisme International demi mendapatkan keuntungan bagi mereka sendiri. Swastanisasi aset rakyat seperti tambang-tambang minyak,listrik, hutan bahkan telekomunikasi merupakan sebagian contoh bentuk penghianantan tersebut.
Mereka (kaum borjuasi) saat ini telah berkamuflase di dalam partai-partai politik, baik itu berlandaskan nasionalisme dan agama. Mengatasnakan demokrasi mereka telah membeli hak-hak rakyat agar dapat duduk di parlemen dan pemerintah padahal sesungguhnya mereka hanya ingin mendapatkan legalitas untuk terus memeras golongan mayoritas rakyat Indonesia. Bahkan demi persaingan dengan sesama mereka sendiri mereka tidak segan menggunakan agama sebagai alat. Kasus Ambon, Poso dan lainnya merupakan suatu contoh dimana mereka menyembunyikan masalah persaingan antar mereka dengan menggunakan kedok agama yang pada akhirnya rakyat golongan mayoritas yang menjadi korban.
Kami golongan putih (Golput) adalah golongan mayoritas rakyat Indonesia. Dengan ini kami tetap bersikap untuk tetap tidak berpihak kepada kekuatan politik apapun. Karena kami melihat bahwa semua kekuatan partai-partai politik adalah partai-partai borjuasi berwatak kapitalistik. Kami melihat semuanya ini hanyalah dagelan politik semata. Permainan politik kaum borjuasi telah nyata gagal dalam mewujudkan keadilan bagi rakyat. Permainan politik kaum borjuasi telah nyata hanya membuat rakyat Indonesia jatuh dalam keterpurukan yang panjang. Bukannkan krisis moneter adalah krisis yang merupakan krisis kapitalisme International di mana kaum borjuasi Indonesia menghambil bagian didalamnya?
Kami golongan putih (Golput) adalah golongan mayoritas rakyat Indonesia. Kami bukanlah anti akan pemilu dan anti akan keterwakilan rakyat dalam dewan-dewan rakyat. Tetapi bagi kami selama pemilu masih dibawah sistem yang di kuasai kaum borjuasi selama itu pula tidak akan ada kesejahteraan.
Demokrasi kami bukanlah demokrasi kaum borjuasi. Demokrasi kami adalah demokrasi dari rakyat dan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia sepenuhnya. Demokrasi di bawah kontrol klas Buruh. Mereka yang berhak duduk di dewan-dewan rakyat adalah mereka yang mewakili kaum buruh, mewakili kaum petani, mewakili kaum miskin kota, mewakili kaum nelayan dan mewakili pedagang-pedagang tradisional Indonesia. Dan bila saat itu tiba kami akan meleburkan diri dalam sistem demokrasi itu.
Demikian pernyataan kami.
Bandung, 7 Juli 2008